Sabtu, 04 Maret 2017

Pengertian Reksadana Saham: Beri Return Terbaik, Tapi Resiko Besar

Reksadana saham menawarkan keuntungan terbaik dalam berinvestasi . Tapi, resikonya tidak kecil. Perlu memahami pengertian dan tujuan keuangan yang cocok untuk berinvestasi di instrumen ini. 
Salah menentukan tujuan, bisa fatal akibatnya. Bagaimana menentukan Reksadana saham terbaik?
Tulisan ini bagian dari Panduan Investasi Reksadana.
Ketika pertama kali berinvestasi di Reksadana, 15 tahun yang lalu, saya secara tidak sengaja mulai dengan Reksadana Saham. Karena, saat itu bekerja di bursa efek jakarta, saya tidak paham instrumen pasar modal selain saham. Jadilah, pengertian Reksadana Saham yang saya paling kenal.
Blessing in disguise, hasilnya, saya menikmati keuntungan yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Investasi naik beberapa kali lipat.
Tapi, itu bukan tanpa tantangan.
Dalam beberapa waktu, pernah harga saham anjlok ke level paling rendah (saham Astra pernah sampai Rp 800 perak – beneran!), sampai – sampai memotong nilai investasi saya di Reksadana. Tapi, kemudian seiring pulihnya pasar, nilai investasi recover  dan bahkan lebih tinggi dari sebelumnya.
Saya banyak melihat teman atau orang yang tidak paham bagaimana seharusnya berinvestasi di Reksadana Saham sehingga kerap mengambil langkah yang salah. Misalnya, panik dan terlalu cepat menjual unitnya ketika pasar sedang turun, yang bermuara pada kerugian investasi. Ini hal yang sebenarnya bisa dihindari, jika punya pemahaman yang baik.
Oleh sebab itu, alangkah baiknya sebelum terjun, kita pahami dulu seluk beluk investasi ini. Apa pengertian Reksadana Saham  ? Bagaimana cara investasi yang tepat?  Siapa Reksadana saham terbaik?

Reksadana Saham

Portfolio dari reksadana ini adalah saham. Manajer investasi mengelola portfolio dengan membeli dan menjual saham.  Keuntungan atau kerugian diperoleh dari kenaikkan atau penurunan harga saham – saham.
Ketentuannya adalah investasi hanya dilakukan pada saham perusahaan Berbadan Hukum Indonesia di Bursa Efek di Indonesia atau bursa efek luar negeri. Artinya, tidak sembarang perusahaan bisa dibeli sahamnya oleh reksadana. Harus yang sudah tercatat di pasar modal.
Aturan ini tujuannya adalah melindungi para pemodal. Karena untuk perusahaan bisa mencatatkan saham di Bursa Efek harus lolos serangkaian kriteria yang ketat dari regulator, yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain itu, masih dalam upaya perlindungan pemodal, OJK mengatur perilaku investasi reksadana saham, antara lain, sbb:
  • Dilarang membeli saham di bursa efek luar negeri yang informasinya tidak dapat diakses dari Indonesia melalui media massa atau fasilitas internet
  • Investasi maksimum pada satu saham adalah 10% dari nilai asset Reksadana.
  • Dilarang menguasai lebih dari 5% modal perusahaan dari saham terkait.

Komposisi Investasi

Tidak semua portfolio diinvestasikan dalam saham. Sebagian ada yang ditempatkan dalam uang tunai atau deposito.
Tujuannya agar saat pemodal mencairkan unit bisa dilayani dengan cepat tanpa harus menjual saham. Selain butuh waktu, menjual saham secara mendadak bisa menurunkan nilai portfolio karena harga di pasar tidak selalu dalam kondisi baik.
Contoh komposisi Reksadana Saham adalah 80% Saham dan 20% Cash. Komposisi ini bisa dilihat dalam Prospektus atau di fund fact-sheet.
Apa saja saham yang dibeli oleh Manajer Investasi? Infomasi ini secara umum terdapat di fund fact sheet yang dirilis setiap bulan. Isi sahamnya bisa berbeda – beda tergantung strategi manajer investasi. Berikut ini contohnya:
Fund Fact Sheet
Belajar Reksadana

Return vs Risk

Dalam menilai reksadana terbaik, kita wajib melihat return dan risk. Tidak bisa hanya salah satunya karena keduanya saling erat berhubungan.
#1 Return Menjanjinkan
Keunggulan Reksadana Saham adalah keuntungannya, yang boleh dikatakan, paling tinggi diantara jenis reksadana  lain, seperti campuran, pendapatan tetap dan pasar uang. Ini reksadana yang secara umum menawarkan keuntungan terbaik.
Berikut ini data dari peringkat Majalah Investor yang menunjukkan kinerja Reksadana Saham terbaik selama periode lima tahun (2013-2009) sebagai berikut:
Kinerja Reksadana Saham 5 Tahun 2009 sd 2013
Belajar Reksadana
Anda bisa lihat setiap tahun rata – rata Reksadana Saham tersebut menyumbangkan keuntungan diatas 20%. Artinya, dalam waktu 5 tahun keuntungan sudah berlipat 100%.
Tingginya return membuat banyak orang kepincut. Sampai – sampai lupa bahwa dibalik keuntungannya yang tinggi ada risiko yang tidak kalah tinggi.
#2 Risk Perlu Waspada
Teori keuangan menyatakan bahwa high return high risk. Dibalik tingginya keuntungan terdapat resiko yang tidak kecil. Prinsip ini berlaku exactly di Reksadana Saham.
Tingginya return membawa konsekuensi resiko. Resiko berarti return bisa berfluktuasi sangat tajam sampai ke level terendah.
Saya pernah mengalami saat bursa sedang kritis di tahun 2008 dimana harga saham – saham pada berguguran. Nilai Reksadana Saham saya saat itu mengalami penurunan tajam sekali sampai – sampai membuat nilai pokok investasi ikut tergerus.
Nilai resiko ini tercermin dalam risk tahunan yang bisa dilihat dalam tabel diatas. Rata – rata punya tingkat resiko cukup tinggi. Dengan angka resiko  sebesar 20%-an itu artinya return bisa berfluktuasi naik keatas sebesar 20% dan turun kebawah sebesar 20% dari nilai rata-ratanya.
Banyak orang yang jatuh cinta dengan reksadana ini karena tergiur melihat tingginya keuntungan. Tapi mereka lupa resikonya. Akibatnya, saat pasar sedang gejolak, mereka panik dan menjual unit cepat-cepat. Tindakan yang seharusnya tidak dilakukan karena hanya akan mendatangan kerugian.

Tips Reksadana Saham

Ada sejumlah hal yang sebaiknya dipahami ketika berinvestasi di jenis reksadana ini.
Tips#1 Tentukan Tujuan Keuangan
Tujuan keuangan akan menentukan apakah pantas menggunakan Reksadana Saham sebagai instrumen investasi.
Saya selalu ingat semboyan pakar perencana keuangan independen Ligwina Hananto, yaitu ‘Tujuan Lo Apa’. Artinya, Tujuan Keuangan-mu menentukan pilihan instrumen keuangan. Bukan sebaliknya, berinvestasi tanpa tahu untuk apa tujuannya.
Kenapa menetapkan tujuan sebelum memilih instrumen itu penting?
Mengingat risikonya yang tinggi, perlu periode investasi yang panjang untuk mengelola risiko tersebut. Karena itu, Reksadana saham digunakan untuk tujuan keuangan yang ingin dicapai 15 tahun lagi.
Jadi, kalau tujuannya untuk 5 tahun lagi, kemudian memutuskan berinvestasi di Reksadana saham karena melihat tingginya keuntungan, itu sama saja nekad. Pemodal mengambil resiko yang sangat besar. Ini yang perlu disadari calon pemodal.
Tips#2 Jangka Panjang
Karena tingginya fluktuasi return, sebagaimana tercermin di tabel sebelumnya, reksadana saham adalah investasi jangka panjang.
Para perencana keuangan umumnya mematok periode 15 tahun sampai 20 tahun sebagai target ideal untuk jenis reksadana ini. Lebih cepat dari itu tidak disarankan karena kemungkinkan fluktuasi return yang besar.
Belajar dari dua kali krisis di tahun 2008 dan 1998, pulihnya bursa saham membutuhkan waktu sekitar 2 – 3 tahun. Setelah periode itu, harga – harga saham sudah kembali normal dan bahkan naik lebih tinggi dari periode sebelumnya (analisa bisa lihat disini).
Tips#3 Review Kinerja Lima Tahun
Sebuah kebiasaan untuk melihat kinerja reksadana dalam jangka pendek 1 tahun. Biasanya, yang berhasil mencatat keuntungan tinggi dalam setahun terakhir dielu-elukan oleh media.
Padahal mungkin saja prestasi itu hanya faktor luck atau kebetulan saja. Dalam statistik, faktor kebetulan punya peran penting dalam mempengaruhi performance.
Supaya tidak terkecoh oleh faktor luck, perlu melihat konsistensi kinerja selama beberapa tahun. Idealnya sepanjang mungkin. Tapi kadangkala data yang tersedia tidak memadai.
Paling tidak selama 5 tahun bagaimana kinerja bisa dinilai. Untuk memastikan bahwa reksadana ini adalah the real winner atau tidak.
Tips#4 Bandingkan Return dan Risk
Seperti telah berulang disampaikan sebelumnya, bahwa reksadana itu dilihat tidak hanya return saja tetapi juga resiko. Keuntungan dan resiko.
Oleh sebab itu, ketika mencari-cari yang terbaik, keuntungan dan resiko harus dilihat secara bersamaan.
Kenapa?
Contohnya, ada reksadana yang kinerjanya bagus sekali, luar biasa returnnya diatas rata – rata market. Kalau hanya berpatokan pada keuntungan semata, reksadana ini jelas akan dipilih.
Tapi, ternyata keberhasilannya karena manajer investasi reksadana ini sangat agresif dan spekulatif dalam memilih saham. Saham – saham kapitalisasi kecil yang jadi koleksi mereka. Kebetulan, kondisi market sedang bagus (bullish) dimana bursa efek tumbuh dengan baik dan harga – harga saham terbang tinggi.
Tapi market tidak selamanya bagus, bukan. Ada saatnya turun, atau bahkan anjlok.
Ketika market turun, reksadana ini pasti yang terpukul paling keras karena saham – saham yang mereka pilih adalah saham – saham yang fluktuasinya paling tajam. Alhasil, kinerjanya bisa turun sangat dalam.
Jadi, pemodal harus membandingkan kedua indikator ini, return dan risk, supaya yang terpilih adalah yang paling optimal perbandingan return dan risk-nya.
Bagaimana caranya? Salah satunya menggunakan indikator Sharpe Ratio, yang membandingkan Return dengan Risk. Dalam peringkat reksadana yang dilakukan oleh majalah Investor dan tabloid Kontan, Sharpe ratio menjadi salah satu komponen penting.

Kesimpulan

Reksadana Saham adalah salah satu alternatif investasi terbaik karena menawarkan keuntungan tertinggi. Namun, pengertian jenis investasi ini wajib dipelajari dan dipahami dengan baik.
Mulai investasi tanpa pemahaman bisa sangat berbahaya. Yang paling utama, Anda harus paham apa tujuan keuangan dan apakah tujuan keuangan tersebut bisa dicapai terbaik dengan Reksadana Saham.

Reksadana Terbaik, Salah Menilai Hanya dari Return Saja

Apa yang Anda lihat ketika mencari Reksadana Terbaik? Mayoritas menilai hanya berdasarkan return, tingkat keuntungan. Tidak ada indikator lain yang menjadi ukuran atau patokan. Padahal, menilai hanya berdasarkan keuntungan, punya sejumlah kelemahan.  
Bukankah tujuan investasi adalah menghasilkan keuntungan, sehingga masuk akal menggunakannya untuk memilih reksadana terbaik.
Umumnya ketika akan membeli Reksadana (Alasan Mengapa Investasi Reksadana, simak disini), calon investor meminta dokumen fact-sheet kepada manajer investasi, biasanya tersedia di web manajer investasi (baca penjelasan apa itu Manajer Investasi disini).
Di dalamnya sudah tersedia perhitungan keuntungan selama periode tertentu, yang kemudian dibandingkan dengan suatu benchmark yang umumnya juga sudah disediakan dalam dokumen tersebut.
Kalau keuntungan diatas benchmark (yang pasti ya karena ini kan dokumen ‘jualan’ manajer investasi), calon investor biasanya sudah yakin, bahwa telah memilih reksadana yang tepat.
Sayangnya, menilai reksadana berdasarkan tingkat keuntungan saja memiliki banyak kelemahan. Kelemahan yang justru membuat kesalahan dalam memilih reksadana dengan kinerja investasi terbaik.

Jangan Hanya Return Reksadana  

Sejumlah kelemahan dan masalah dengan hanya menggunakan indikator keuntungan sebagai berikut:
  • Tidak memperhitungkan risiko investasi. Risk dan Return adalah dua hal yang saling berdampingan, tidak terpisahkan. Pada saat keuntungan tinggi, artinya resikonya juga tinggi. Ketika hanya melihat return, kita tidak tahu seberapa besar risikonya. Pada saat ekonomi sedang bagus, risiko tidak akan terlihat, yang tampak hanyalah kenaikkan keuntungan. Namun, pada saat ekonomi turun, reksadana yang keuntungannya tadi paling tinggi, bisa jadi anjlok paling dalam. Kenapa? Karena sebelumnya reksadana tersebut tumbuh dengan membeli saham – saham lapis kedua yang risikonya tinggi. Oleh karena itu, penilaian yang seharusnya adalah membandingkan keuntungan yang sudah disesuaikan dengan tingkat risiko (risk adjusted return). Dengan begitu, perbandingan menjadi fair.  Reksadana risiko tinggi harus dibandingkan dengan reksadana risiko tinggi, bukan reksadana risiko tinggi dibandingkan reksadana risiko rendah.
  • Tidak Mempertimbangkan Likuiditas.Salah satu risiko investasi reksadana adalah likuiditas, yaitu terhambat proses pencairan investasinya. Misalnya, reksadana menanamkan uangnya di saham – saham yang tidak likuid, yang susah dijual, ketika investor ingin mencairkan kepemilikkannya mengalami kesulitan karena reksadana kesulitan menjual saham. Risiko likuiditas tidak tercermin di dalam tingkat keuntungan. Reksadana yang tingkat keuntungannya tinggi tidak dengan sendirinya punya risiko likuiditas rendah.
  • Tidak Melihat Usia Reksadana. Semakin lama usia reksadana berarti menunjukkan bahwa ia sudah melewati masa boom dan masa bust pasar modal. Kalau reksadana Anda baru berumur 2 tahun, sementara selama 2 tahun tersebut pasar modal sedang booming, reksadana belum teruji dalam masa sulit. Belum tahu apakah reksadana tahan krisis. Ingat, pasar modal tidak selamanya tumbuh, harga saham tidak selamanya naik, ada saat krisis, ada saat harga saham jatuh.
  • Tidak Memperhitungkan Size Reksadana. Jumlah dana kelolaan reksadana menunjukkan kredibilitas manajer investasi dan kepercayaan investor terhadap reksadana. Secara umum, makin besar ukuran dana, makin dipercaya dan makin populer reksadana tersebut. Ada sebuah studi menarik mengenai implikasi jumlah dana kelolaan, yang intinya membuktikan bahwa jumlah dana kelolaan besar, diatas Rp 1 trilliun, memiliki kinerja yang lebih baik.
  • Tidak Dilakukan Evaluasi dalam Periode yang Sama. Periode observasi yang sama merupakan syarat evaluasi bisa objektif. Periode berbeda sangat mungkin menghasilkan kinerja yang sama sekali berbeda. Agar fair dan objektif, perbandingkan antar reksadana harus dilakukan dalam periode observasi yang sama. Masalahnya, ketika menilai kineja reksadana dari fact-sheet, periode observasi sangat mungkin berbeda antara satu reksadana dengan reksadana yang lain. Jadi menilai hanya dari return, tanpa memastikan bahwa periode observasi sudah sama, tidak akan memberikan hasil yang akurat. 
Kesimpulannya, menilai reksadana berdasarkan return itu penting, tetapi tidak cukup. Perlu tambahan informasi lain agar evaluasi reksadana dilakukan dengan akurat.

Evaluasi Reksadana Terbaik

Evaluasi reksadana yang ideal melibatkan banyak faktor, bukan hanya melihat satu faktor saja:
  1. RISIKO. Karena investasi memiliki risiko, keuntungan reksadana harus disesuaikan (adjusted) dengan risiko yang diambil. Risk adjusted risk adalah indikator yang seharusnya digunakan ketika membandingkan kinerja reksadana.
  2. LIKUIDITAS. Di instrumen mana investasi reksadana dilakukan. Jenis investasi mempengaruhi tingkat likuiditas, kemudahan pencairan. Semakin investasi dilakukan ke saham – saham blue-chips, atau obligasi rating bagus, likuiditas reksadana semakin baik.
  3. USIA. Semakin lama usia reksadana, semakin baik. Artinya, sudah melewati cycle perekonomian, saat jelek maupun saat bagus.
  4. DANA KELOLAAN. Seberapa besar dana kelolaan reksadana, makin besar makin baik. Besarnya dana kelolaan menunjukkan kepercayaan investor terhadap reksadana.
  5. OBJEKTIVITAS.  Evaluasi antar reksadana harus dilakukan secara objektif, yaitu pada periode yang sama. Perhitungan keuntungan sebaiknya dilakukan oleh pihak yang independen, bukan affiliasi manajer investasi terkait, supaya hasilnya objektif dan bisa dipertanggungjawabkan.
Ternyata banyak faktor diluar keuntungan yang wajib diperhitungkan ketika mencari reksadana terbaik. Bahkan, beberapa indikator yang disarankan diatas, informasinya tidak mudah diperoleh. Terus bagaimana?
Yang saya lakukan adalah menggunakan hasil peringkat reksadana terbaik. Peringkat meng-cover semua faktor – faktor diatas dalam menilai reksadana.
Jika masih ada pertanyaan atau uneg-uneg, silahkan tulis di comment. Saya akan berusaha menjawabnya.

Pengalaman Membeli Reksadana Terbaik

Pengalaman Membeli Reksadana Terbaik

Article/tips/thread by Likesmedia and friends
Artikel tentang memilih reksadana terbaik ini merupakan riset kecil keluarga kami sebagai pertimbangan sebelum melangkah membeli reksadana di bank agen penjual atau langsung ke manajer investasi (MI) yang berpengalaman. Data reksadana (RD) dihimpun dari berita reksadana online up-to-date seperti kontan, infobank, infovesta, bloomberg, termasuk Bapepam-LK. dan ARIA Bapepam.

Buat kami, sebelum membeli, cara terbaik adalah dengan melakukan perbandingan produk-produk reksadana yang dijual. Umumnya dengan melihat imbal hasil atau return yang paling tinggi serta membandingkan kinerja manajer investasi satu dengan yang lain dari tahun ke tahun. Contohnya, mengamati history kinerja dan return 3 - 5 tahun sebelumnya untuk membeli reksadana di 2015 bahkan 2016 nanti. Selain cara di atas, saya belum mempelajari kecuali para ahli yang membidangi investasi khususnya reksadana yup!

Saya baru bekerja dan menikah, memiliki keluarga kecil. Belum begitu banyak kebutuhan karena anak saya masih kecil. Oleh karena itu saya berniat memilih reksadana saham (RDS) karena berani menerima resiko besar / high risk. Strategi investasi reksadana yang akan digunakan adalah value averaging dan/ dollar cost averaging / DCA.

Sebagai pemula, saya ingin berinvestasi dengan membeli reksadana dengan dana kecil/sedikit saja. Dengan dana terbatas ini, mungkin lebih bijaksana jika membeli reksadana saham sesuai tujuan, kemampuan, dan kebutuhan saya. Tujuan membeli reksadana nantinya kalau mampu untuk biaya uang muka mobil (berharap), DP rumah, dana pendidikan anak, dan rencana liburan jika perlu. Saat ada kelebihan pendapatan/penghasilan, saya berencana membeli reksadana tepat di waktu akhir September sampai dengan awal Oktober setiap tahun.

Kriteria reksadana saham (RDS) yang diamati antara lain:
  1. Reksadana saham dengan NAB/UP Rp 1.500 - 3.500 saja untuk saat ini, mengapa? Yup, karena dana saya kecil, jika saham sedang turun kerugian mungkin tidak terlalu besar. Saya tidak memilih reksadana saham dangan NAB atau NAV Rp 1.000 dan/ dibawahnya, karena mungkin produk RDS tersebut tergolong baru, dan belum dapat dilihat kinerjanya. Atau mungkin RDS produk lama, tapi strategi investasi yang dipakai kurang bagus, sehingga kinerja reksadana turun, tidak mendapatkan return terbaiknya. 
  2. Kinerja produk reksadana saham selama 3 tahun terakhir. Saya seorang pemula, jadi tidak memilih reksadana saham usia 1 tahun, yang saya amati adalah kinerja reksadana saham minimal usia 3 tahun ke atas. Karena hal ini menyangkut eksistensi produk reksadana saham serta keaktifan dan kredibilitas Manajer Inverstasi (MI)-nya membentuk return.
  3. Imbal bagi hasil atau return reksadana sahamnya sudah mencapai minimal 18% - 55% dalam tempo 3 tahun. Karena mungkin, reksadana saham akan di redemption atau saya jual kembali sebelum jatuh tempo 5-7 tahun.
Berdasarkan kriteria RDS yang saya amati sesuai kriteria di atas, ada 10 produk reksadana saham dari MI yang berbeda yang dapat dikatakan tahan terhadap krisis/inflasi. Produk yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan/ membeli reksadana terbaik di tahun 2015 ini, yaitu:
  1. Batavia Dana Saham Optimal.
  2. BNP Paribas Infrastruktur
  3. Cipta Syariah Equity.
  4. HPAM Ultima Ekuitas 1.
  5. Lautandhana Equity Progesif.
  6. Millenium Equity.
  7. Panin Dana Prima.
  8. Pratama Equity.
  9. RHB OSK Alpha Sector Rotation.
  10. Manulife Syariah Sektoral Amanah.
  11. Sam Indonesian Equity Fund.
  12. Schroder Indo Equity Fund.
Perlu diketahui bahwa harga reksadana aktual / nav terakhir bukan acuan memlih RDS, karena pergerakan NAB reksadana saham akan terus berubah sepanjang tahun. Karena pemula, tidak ada salahnya jika riset kecil tentang history kinerja RDS dalam membentuk return / imbal hasil tertinggi ini, akan saya lakukan kembali (update) untuk mengetahui prediksi pertumbuhan reksadana saham tahun berikutnya.

Sesungguhnya, kinerja reksadana dipengaruhi oleh strategi investasi yang bisa dipakai untuk memprediksi harga saham selanjutnya. Oleh karena itu, penting kiranya untuk belajar strategi investasi RDS, sekaligus analisis terhadap produk reksadana saham yang memliki return diatas pertumbuhan imbal hasil IHSG, tentunya dengan memperhatikan isu/prediksi inflasi, nilai tukar mata uang, kebijakan suku bunga / BI rate, serta kesehatan neraca perdagangan karena faktor-faktor inilah yang dapat mempengaruhi kinerja bursa saham. Selain itu, bijak untuk mengetahui terlebih dahulu sebelum membeli RD, yaitu biaya-biaya reksa dana dan tips membeli reksadana.

Menulis pengalaman, mungkin menjadi artikel yang paling banyak dicari di Google, seperti sharing di forum Kaskus. Khusus untuk produk-produk reksadana dengan return terbaik akan saya UPDATE dari tahun ke tahun untuk kepentingan keluarga saya.

reksadana saham - RDS

Pilihan Reksadana Saham Terbaik 2016

Pilihan Reksadana Saham Terbaik 2016

Reksadana saham terbaik 2016 rasanya sudah bisa kita tampilkan mengingat saat ini sudah memasuki semester kedua di tahun 2016. Ya meskipun baru setengah tahun harusnya sudah bisa menjadi pertimbangan untuk anda yang mau investasi reksadana khususnya untuk yang pemula yang mencari-cari reksadana saham mana yang bisa menjadi pilihan.
Untuk mengukur kinerja reksadana saham terbaik 2016 memang banyak acuan dan kali ini saya hanya menampilkan kinerja berdasarkan data yang saya coba koleksi dari sebuah institusi agen penjual reksadana online yaitu Indopremier.
Untuk ukuran terbaik ini saya mencoba melihat dalam 5 pendekatan yaitu pertama jumlah AUM atau asset under management yang juga diartikan sebagai total dana yang dikelola, kedua kinerja selama tahun berjalan 2016, ketiga kinerja selama 1 tahun terakhir, keempat kinerja selama 3 tahun terakhir dan kelima kinerja selama 5 tahun terakhir.
Reksadana saham terbaik 2016 AUM

Pertama : Reksadana saham terbaik 2016 berdasarkan jumlah dana kelolaan (AUM)

Dana kelolaan ini sebenarnya dapat diartikan sebagai seberapa percaya investor terhadap sebuah reksadana saham. Ibarat orang baik yang pasti disenangi oleh banyak orang dan tidak hanya disenangi tetapi juga dipercaya tentunya. Sama analoginya dengan reksadana saham ini, dapat diartikan semakin besar dana yang dikelola artinya semakin baik reksadana saham ini. Apa saja reksadana saham terbaik 2016 kalau dilihat dari sisi jumlah dana kelolaan ? Ini dia 10 besarnya yang saya dapatkan.
  • Posisi 1 : Schroder Dana Prestasi Plus (14,06 triliun)
  • Posisi 2 : Schroder Dana Prestasi Dinamis (8,48 triliun)
  • Posisi 3 : Schroder Dana Prestasi (6,18 triliun)
  • Posisi 4 : Panin Dana Maksima (5,37 triliun)
  • Posisi 5 : Schroder 90 Plus Equity Fund (5,06 triliun)
  • Posisi 6 : Mandiri Saham Atraktif (4,93 triliun)
  • Posisi 7 : BNP Paribas Ekuitas (3,59 triliun)
  • Posisi 8 : BNP Paribas Infrastruktur Plus (3,11 triliun)
  • Posisi 9 : Schroder Dana Istimewa (2,89 triliun)
  • Posisi 10 : Ashmore Dana Progresif Nusantara (2,32 triliun)
Nah kalau kita melihat data di atas maka itulah 10 reksadana saham terbaik 2016 berdasarkan besar dana yang dikelola. Di urutan 1-3 ternyata dipegang oleh Manager Investasi Schroder Investment Management Indonesia. Bagaimana anda tertarik untuk menitipkan uang anda kepada 10 reksadana saham di atas ?
Reksadana saham terbaik 2016

Kedua : Reksadana saham terbaik 2016 berdasarkan kinerja selama 2016

Untuk urusan kinerja kita semua tahu bagaimana kondisi pasar modal kita sejak akhir tahun 2015 kemarin. Ya ambruk cukup dalam dan secara kinerja pasar modal kita baru mulai sedikit bangkit lagi di kuarter kedua tahun 2016. Jadi kalau kita lihat data salama 2016 yang artinya mulai dari Januari hingga Juni 2016 inilah 10 reksadana saham dengan kinerja pertumbuhan yang tertinggi.
  • Posisi 1 : Pacific Equity (30,99%)
  • Posisi 2 : Sucorinvest Sharia Equity Fund (22,10%)
  • Posisi 3 : Archipelago Equity Growth (21,92%)
  • Posisi 4 : Sucorinvest Equity Fund (20,91%)
  • Posisi 5 : SAM Dana Cerdas (20,04%)
  • Posisi 6 : SAM Indonesian Equity Fund (19,44%)
  • Posisi 7 : I AM Equity (18,47%)
  • Posisi 8 : HPAM Syariah Ekuitas (17,63%)
  • Posisi 9 : OSO Sustainability (17,24%)
  • Posisi 10 : TRIM Syariah Saham (16,89%)
Bagaimana cukup familiar nama-nama reksadana saham tersebut di telinga anda ? Dalam investasi kita mengenal prinsip yang relatif umum yaitu high return high risk. Bagi saya untuk memulai investasi memang cenderung tidak menyarankan untuk melihat kinerja sebuah reksadana saham dari kinerja jangka pendeknya apalagi kalau reksadana saham ini kita rekomendasikan untuk investasi di atas 10 tahun loh. Meskipun data kinerja selama 2016 ini tidak disarankan untuk dijadikan pertimbangan utama tetapi paling tidak kita tahu bahwa dibalik terpuruknya pasar modal Indonesia selama 2016 ini ternyata masih ada cukup banyak reksadana saham yang kinerjanya mencapai 16-30% selama 6 bulan terakhir ini.
Ebook Perencanaan Keuangan “Hidup NIKMAT dengan CERDAS FINANSIAL”Download Ebook Perencanaan Keuangan

Ketiga : Reksadana saham terbaik 2016 berdasarkan kinerja selama setahun (Juni 2015 – Juni 2016)

Kalau berdasarkan data 1 tahun sejak Juni 2015 hingga Juni 2016 rasanya tidak akan terlalu baik deh hasil kinerja reksadana saham kita karena seperti kita bahas di atas bahwa di akhir tahun 2015 pasar modal kita jatuh cukup dalam. Apakah benar prediksi saya ? Inilah 10 reksadana saham terbaik untuk kinerja 1 tahun sejak Juni 2015 hingga Juni 2016.
  • Posisi 1 : Lippo Equity Plus (25,88%)
  • Posisi 2 : Pacific Equity (16,05%)
  • Posisi 3 : SAM Dana Cerdas (15,66%)
  • Posisi 4 : Panin Dana Teladan (15,57%)
  • Posisi 5 : Sucorinvest Equity Fund (13,80%)
  • Posisi 6 : BNI Berkembang (12,77%)
  • Posisi 7 : Schroder Indo Equity Fund (11,90%)
  • Posisi 8 : Valbury Equity I (10,43%)
  • Posisi 9 : Prospera Bijak (10,20%)
  • Posisi 10 : Schroder Dana Prestasi Plus (9,62%)
Nah benar khan dibandingkan kinerja 6 bulan terakhir ternyata pertumbuhan reksadana saham 1 tahun terakhir memang lebih rendah. Secara data di atas hanya bertumbuh sekitar 9-25% tapi tetaplah sebuah hasil investasi yang sangat menggiurkan.
Reksadana saham terbaik 2016

Keempat : Reksadana saham terbaik 2016 berdasarkan kinerja 3 tahun terakhir (Juni 2013 – Juni 2016)

Yuk kita lihat lebih jauh lagi 3 tahun terakhir yang artinya kinerja sejak Juni 2013 hingga Juni 2016. Inilah hasilnya 10 reksadana saham terbaik selama 3 tahun terakhir.
  • Posisi 1 : Lautandhana Equity Progresif (40,38%)
  • Posisi 2 : Simas Saham Unggulan (33,55%)
  • Posisi 3 : Dana Pratama Ekuitas (30,35%)
  • Posisi 4 : Dana Pratama Equity (27,96%)
  • Posisi 5 : Ashmore Dana Progresif Nusantara (27,50%)
  • Posisi 6 : RHB Alpha Sector Rotation (23,16%)
  • Posisi 7 : Ashmore Dana Ekuitas Nusantara (21,97%)
  • Posisi 8 : Pratama Saham (21,45%)
  • Posisi 9 : Schroder Dana Prestasi Plus (20,61%)
  • Posisi 10 : HPAM Ultima Ekuitas 1 (20,19%)
Data selama 3 tahun terakhir ini biasanya sudah menjadi pertimbangan untuk saya dalam memilih sebuah reksadana untuk tujuan investasi jangka panjang di atas 10 tahun. Oh ya pertumbuhan di atas bukan pertumbuhan rata-rata per tahun ya tapi pertumbuhan total yang kalau kita jadinya bunga rata-rata majemuk dapat diterjemahkan sebagai berikut :
  • Bunga 3 tahun 20,19% setara sekitar rata-rata 6% per tahun
  • Bunga 3 tahun 40,38% setara sekitar rata-rata 12% per tahun

Kelima : Reksadana saham terbaik 2016 berdasarkan kinerja 5 tahun terakhir (Juni 2011 – Juni 2016)

Terakhir yuk kita lihat bagaimana kinerja reksadana saham terbaik 2016 selama 5 tahun terakhir. Ini data kinerjanya.
  • Posisi 1 : Dana Pratama Equity (74,39%)
  • Posisi 2 : Lautandhana Equity Progresif (63,47%)
  • Posisi 3 : Millenium Equity (62,56%)
  • Posisi 4 : MNC Dana Ekuitas (57,26%)
  • Posisi 5 : RHB Alpha Sector Rotation (55,26%)
  • Posisi 6 : Dana Pratama Ekuitas (54,86%)
  • Posisi 7 : Pratama Saham (53,33%)
  • Posisi 8 : Schroder Dana Prestasi (51,35%)
  • Posisi 9 : Cipta Syariah Equity (51,10%)
  • Posisi 10 : HPAM Ultima Ekuitas 1 (49,50%)
Lengkap deh itulah hasil reksadana saham terbaik 2016 kalau dilihat secara kinerja selama 5 tahun terakhir. Terdapat pertumbuhan mulai dari 49,50% (setara rata-rata 8,5% per tahun) sampai dengan 74,39% (setara rata-rata 11% per tahun).
Reksadana saham terbaik 2016 - Kesimpulan

Kesimpulan :

Ternyata  tidak ada reksadana saham yang bisa menjadi nomor 1 sacara kontinu dari tahun ke tahun. Secara produk reksadana saham memang yang memiliki potensi pertumbuhan yang paling tinggi yang artinya secara otomatis juga memiliki risiko yang paling tinggi. Risiko yang dimaksud di sini adanya pergerakan perubahan harga yang sangat dinamis. Karena risikonya paling tinggi maka diperlukan pengetahuan yang juga tinggi dari kita sebagai investor. Untuk anda yang mau memulai reksadana dengan memperkecil faktor risiko pergerakan reksadana saham maka dianjurkan untuk cenderung melihat faktor jumlah dana yang dikelolah dan data kinerja 3 sampai dengan 5 tahun terakhir dan tidak direkomendasikan untuk melihat data jangka pendek kecuali anda mau menjadi seorang trader dengan memanfaatkan momentum pergerakan harga di pasar modal. Apa itu trader ? Silakan lanjut ya ke artikel saya sebelumnya tentang Investor, Trader dan Gambler Saham.
Salam Cerdas Finansial,
Andreas Hartono, CFP
Mindset & Financial Motivator
Untuk kebutuhan inhouse training motivasi perencanaan keuangan “Karyawan Produktif itu Cerdas Finansial” silakan dapat menghubungi Andreas-Hartono Academy di 021.4060.9000 atau langsung ke Andreas Hartono di 0811.128.338